Review Film: ‘A Silent Voice’ / ‘Koe no Katachi’ (2017)

‘A Silent Voice’ sajikan sebuah perspektif yang sederhana tentang persahabatan, bullying dan disabilitas, tapi juga diangkat dengan sensitivitas tinggi.

“It is as a result of I have not modified.”
— Shoya Ishida

A Silent Voice

atau yang di kampung halamannya berjudul Koe no Katachi melanjutkan tren anime yang yang menantang ekspektasi. Saat melihat poster, membaca sinopsis dan didukung dari sugesti setelah menonton Your Title (Kimi No Na Wa) beberapa bulan yang lalu, saya pikir A Silent Voice merupakan movie romance. Namun ternyata movie ini bukan love story, alih-alih mengenai persahabatan. Karakter kita berkutat dengan disabilitas, bullying, pengucilan dan bunuh diri, tapi yang mereka inginkan hanyalah sahabat, bukan simpati; sebuah perspektif yang sederhana tapi juga diangkat dengan sensitivitas tinggi.

Movie ini diadaptasi dari serial manga berjudul sama karya Yoshitoki Oima oleh penulis naskah Reiko Yoshida dan sutradara Naoko Yamada. Plotnya mengenai seorang cowok mantan tukang bully yang mencari penebusan dosa pasca bertemu kembali dengan cewek korban bully setelah bertahun-tahun pisah sekolah. Dalam semesta movie, premis ini akan menuju arah yang terbatas: sang cowok berjuang mati-matian hingga ceweknya luluh dan mereka menjalin asmara. Namun sungguh sebuah kenikmatan saat A Silent Voice bergerak ke arah yang tak saya duga.

Sang cowok adalah Shoya Ishida (Mayu Matsuoka), bocah bandel yang baru saja kedatangan siswi pindahan di SD-nya, Shoko Nishimiya (Saori Hayami, bagus menampilkan bagaimana seorang tuna rungu yang berjuang untuk bicara). Ishida suka menjahili Nishimiya karena Nishimiya memiliki disabilitas. Ia tak bisa mendengar sehingga harus menggunakan catatan untuk berkomunikasi. Keisengan Ishida dan perspective Nishimiya yang rendah diri membuat teman-teman sekelas juga ikut-ikutan mem-bully Nishimiya secara fisik dan psikis.

Terkadang kita tak menyadari bagaimana keisengan kecil semacam menyiram kepala atau membuang catatan bisa melukai orang. Salah satu hal yang membuat saya greget adalah bagaimana filmnya tak mengeskalasi bullying-nya. Sebagai orang yang sering melihat (dan kadang mengalami) keisengan semasa kecil, taraf bullying disini sangat wajar kita lihat dilakukan oleh anak-anak. Namun sikap Nishimiya yang pasrah bahkan merasa dirinyalah yang bersalah, saya yakin, akan membuat semua feeling yang anda pikir sudah lama mati mengapung ke permukaan.

Ketika Nishimiya pindah sekolah lagi, teman-teman menyalahkan Ishida, walaupun sedikit banyak mereka juga ikut andil dalam mem-bully. Ia sekarang menjadi korban bullying sampai SMA. Situasi ini membuat Ishida (Miyu Irino) menutup diri dan tak mau berinteraksi hingga di satu titik ia bermaksud bunuh diri. Namun saat tak sengaja berjumpa dengan Nishimiya, Ishida mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjalin hubungan kembali dengan teman-teman lama dan baru.

Meski sering jahil, Ishida bukan anak bandel tanpa simpati. Ia tahu ia melakukan sesuatu yang salah saat melihat darah menetes dari telinga Nishimiya setelah ia mencabut paksa alat bantu dengar atau saat melihat ibunya meminta maaf kepada ibu Nishimiya. Mungkin dihantui rasa bersalah, Ishida juga mempelajari bahasa isyarat di klub bahasa isyarat (ada ya ternyata), tempat yang membuatnya bersua dengan Nishimiya. Ia juga berkenalan dengan si culun Nagatsuka (Kensho Ono), teman pertamanya setelah sekian lama serta Yuzuru (Aoi Yuki), adik cewek Nishimiya yang awalnya salah dikira Ishida sebagai pacar Nishimiya.

Movie ini tak sekedar berfokus pada hubungan antara Ishida dengan Nishimiya melainkan juga para karakter di sekeliling mereka. Ada si kacamata Kawai (Megumi Han), ketua kelas SD yang masih satu SMA dengan Ishida; Sahara (Yui Ishikawa), yang mungkin satu-satunya anak yang mau berteman dengan Nishiyama; serta Ueno (Yuki Kaneko), cewek populer yang tetap saja doyan mem-bully Nishiyama. Dalam movie ini, semuanya melakukan perjalanan ethical untuk belajar. Degree popularitas mereka dalam hierarki sosial tidak sama, tapi mereka punya kemiripan dalam memandang diri sendiri atau orang lain. Mereka sama-sama punya masalah insecurity.

Atmosfer filmnya yang lembut dan intim mungkin mengingatkan kita dengan film-film Makoto Shinkai, khususnya 5 Centimeters per Second, dan memang ini karena sutradara Yamada menggunakan pendekatan naratif yang sama. Ia mengandalkan visible yang indah untuk bercerita atau sekedar menempatkan karakter, diiringi dengan alunan scoring lembut. Untuk tekstur latar belakang seperti tetes air atau kembang api, movie ini juga menggunakan gambar photorealistic dengan warna vibrant. Para animatornya memberi perhatian lebih pada penggunaan cahaya dan bayangan.

Meski ceritanya realistis, desain karakternya khas anime dimana mereka punya mata belo, dan ini tepat karena Yamada lebih menekankan untuk menampilkan kompleksitas emosi lewat ekspresi. Komposisi gambar seringkali tak fokus dan out of body, memberi kesan canggung sebagaimana yang dialami karakternya. Ada sebuah gimmick yang unik menggunakan tanda X yang menutupi wajah orang-orang yang ingin dihindari oleh Ishida. Tanda ini akan hilang saat Ishida merasa dekat dengan yang bersangkutan. Karakterisasi tak terungkap secara gamblang dan kadangkala motif mereka tak bisa kita duga, tapi saya percaya anda akan bersimpati dengan mereka di akhir.

A Silent Voice adalah satu lagi gem dari industri anime yang sangat variatif dari Jepang. Movie ini melodrama, tentu saja, dan di beberapa titik, lumayan membuat mata saya berkeringat, tapi ia menyampaikan pesan positif dari sebuah premis yang generically depressive. Meski demikian, daya tariknya mungkin tak seluas Your Title yang mampu menggaet penonton dari semua kalangan. Saya pikir movie ini terlalu sensitif. It is for the lonely individuals who making an attempt laborious to get mates, ‘trigger discovering mates is not as straightforward as “regular” individuals do. ■UP

Comply with Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di fb: fb.com/ulasanpilem


.containerdiv .cornerimage

‘A Silent Voice’ / ‘Koe no Katachi’ |
TEGUH RASPATI | four Mei 2017

IMDb | Rottentomatoes
129 menit | Remaja

Sutradara Naoko Yamada
Penulis Reiko Yoshida (screenplay), Yoshitoki Ōima (manga)
Pemain Miyu Irino, Saori Hayami, Aoi Yūki

Incoming search terms:

xxx java movies selingkuh, Borwap video xxx full selingkuh jav, jav xxx movie streaming no sensor, xxx flm pull jav, movei xxx java singkuh porno com, bokep semi army full, donload bokep jav selingku, jav videos hdporno wap com, neko poi pro java, download bokep jav full movie

Leave a Reply