Review Film: ‘King Arthur: Legend of the Sword’ (2017)

Beberapa bagian terasa payah, tapi saat ‘King Arthur: Legend of the Sword’ dalam mode hiperkinetik, ia keren parah.

“I am not getting drawn into this mess! There’s a military of you, there’s solely certainly one of me! I will discuss, I am glad to speak. However there may be NO WAY that I’m preventing.”
— Arthur

Jika anda memberi satu nama tokoh klasik kepada sutradara Man Ritchie, ia kemungkinan besar akan menyulapnya menjadi jagoan berandal tangguh dengan kemampuan tremendous yang doyan menunjukkan kemachoannya lewat slow-motion. Sherlock Holmes sudah membuktikannya (dan saya masih menunggu seandainya ada yang menawarkan Ritchie ide cerita tentang Albert Einstein). Legenda King Arthur memang soal seorang pria tangguh, anda bilang. Oke. Namun karena yang ini adalah filmnya Man Ritchie, bisa dipastikan King Arthur yang ini bukanlah King Arthur yang biasanya.

King Arthur: Legend of the Sword

mungkin adalah movie King Arthur paling brutal, macho, tak simpatik dan sinis yang pernah dibuat. Nyaris tak ada ruang untuk romance atau drama, kecuali drama antarpara bro. Movie ini hanya mengenai pria tangguh yang berantem dengan monster atau pria tangguh lain. Man Ritchie mengambil elemen-elemen dasar dari legenda King Arthur lalu merangkainya menjadi, effectively, movie Man Ritchie. Movie ini melibatkan penyihir dan ular raksasa, tapi hal terbaik darinya adalah gaya khasnya Ritchie.

Pendekatannya bisa dibilang cukup ekstrim. Ritchie memulai debutnya dengan Lock, Inventory and Two Smoking Barrells, movie mengenai petualangan preman jalanan di dunia kriminal bawah tanah. Plot dari King Arthur: Legend of the Sword mirip dengan konflik antargeng jalanan. Ganti setting Abad Pertengahan dengan period fashionable, maka kita akan mendapati satu movie tentang geng kecil melawan geng penguasa. Begitu pula dengan dinamika antarkarakternya, khususnya antara Arthur dengan teman-teman premannya.

Oh, apa saya sudah bilang bahwa Arthur tinggal dan dibesarkan di rumah bordil? Lupakan persona keturunan bangsawan yang agung dan terhormat, karena Arthur kita disini adalah seorang berandal, culas, bengal, tukang bohong, dst. Ia diperankan oleh Charlie Hunnam yang tampilan fisik, blandness, dan perut sixpack-nya sangat cocok dengan karakterisasi Arthur yang sangat primary. Movie ini merupakan origin story bagi Arthur yang awalnya-menolak-tapi-akhirnya-menerima-takdirnya dimana ia harus mengalami ujian fisik dan psychological, namun karakternya memang tak punya kompleksitas, satu elemen yang tak dibutuhkan movie.

Musuhnya adalah Vortigern (Jude Legislation), sang paman yang di awal movie diceritakan membunuh kakaknya sendiri, ayah Arthur (Eric Bana) demi mengambil alih tahta kerajaan. Untuk memperoleh kekuatan, Vortigern melakukan pesugihan kepada monster yang separuhnya cumi dan separuhnya Three-manusia. Sebelum tewas, sang ayah mengirim Arthur di sebuah perahu yang akhirnya tertambat di rumah bordil. Arthur berhasil selamat, hidup dalam persembunyian, dan dibesarkan disana. Tak ada yang tahu bahwa ia adalah keturunan raja terdahulu.

Ritchie pasti tahu bahwa nyaris tak ada yang peduli dengan backstory yang formulatif ini, jadi ia merangkum seluruh masa muda Arthur dalam sebuah montage hiperaktif yang diiringi scoring enerjik dari Daniel Pemberton, dimana kita melihat Arthur diasuh oleh PSK, menjadi buruh, diberi uang, hingga berlatih martial arts di sebuah perguruan yang dipimpin oleh Kung Fu George. Serius, namanya ini benar.

Bertahun-tahun kemudian, Arthur menjadi preman terkenal. Namun preman pun harus menurut saat raja menggelar sayembara paksa untuk mencabut sebuah pedang mistis yang tertancap di batu. Dan fiuh, lihat bagaimana Ritchie mendramatisasi saat Arthur melakukannya. Sang pencabut pedang ditakdirkan untuk menjadi raja berikutnya, yang tentu saja membuat Vortigern gerah. Selamat dari eksekusi, Arthur bergabung dengan tim pemberontak yang terdiri dari Sir Bedivere (Djimon Honsou), Goosefat Invoice (Aiden Gillen), seorang penyihir wanita (Astrid Berges-Frisbey) serta para berandalan kota.

Itu adalah garis-garis besar filmnya, namun Ritchie bermain dengan variabel dari legenda Arthur ini dengan sangat bebas. Di beberapa momen, sutradara berenergi tinggi ini seperti tak peduli dengan legendanya, alih-alih lebih tertarik dengan gaya dan intensitas. Di adegan aksi, kamera bergerak dengan agresif, entah itu menvariasikan sudut pandang atau menegaskan sluggish movement. Ada satu adegan kejar-kejaran dimana ia menggunakan kamera semacam GoPro yang ditempelkan ke tubuh pemainnya untuk memberikan nuansa frantic.

Sekuens pembuka movie yang lumayan panjang, sangat spektakuler. Kastil Camelot dikepung oleh gajah raksasa (yang benar-benar raksasa!) yang dikontrol oleh penyihir jahat. Eric Bana dengan heroik menunggangi kuda lalu meloncat ke pundak sang gajah dan menyabetkan pedang Excalibur-nya dengan memberikan efek yang menggetarkan bumi, actually. Adegan aksi pamungkasnya tak sespektakuler ini. Arthur dan pedangnya punya kemampuan semacam hyperdrive dimana ia melesat dengan cepat sementara sekitarnya seolah bergerak pelan. Ritchie merancangnya seperti sekuens aksi dari online game fantasi yang keren secara grafis tapi membuat saya overdosis CGI.

Aspek paling menarik adalah apa yang membuat movie Ritchie movie Ritchie, bukan aspek fantasi yang gloomy dan self-serious. Saya sangat menikmati permainan kata-kata yang gesit dan selera humor saat Arthur dan para begundalnya merancang rencana untuk mengeksekusi Vortigern. Mereka saling mengutarakan rencana sembari narasi dipotong dengan eksekusi aktual di lapangan. Bagian-bagian inilah yang mengelevasi movie yang beberapa kali mengalami masalah pacing saat mencoba memasukkan drama atau saat plot menyentuh space fantasi yang kadangkala over-the-top (ular raksasa, misalnya) tapi tak cukup konyol untuk disebut menghibur.

Saya tak pernah berpikir akan mendapatkan movie Arthur yang benar-benar terasa baru setelah sebelumnya ada 37 movie — jika wikipedia benar— adaptasi langsung tentang King Arthur. It takes fashionable tradition and suits the hell out of it with Arthurian legend. Saya sangat menyukai sentuhannya yang segar, tapi harus diakui seringkali ia terasa draggy. Beberapa bagian terasa payah, tapi saat filmnya dalam mode hiperkinetik, ia keren parah. ■UP

Observe Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di fb: fb.com/ulasanpilem


.containerdiv .cornerimage

‘King Arthur: Legend of the Sword’ |
TEGUH RASPATI | 10 Mei 2017

IMDb | Rottentomatoes
126 menit | Dewasa

Sutradara Man Ritchie
Penulis Man Ritchie, Lionel Wigram, Joby Harold
Pemain Charlie Hunnam, Àstrid Bergès-Frisbey, Jude Legislation

Leave a Reply