Review Film: ‘The Autopsy of Jane Doe’ (2017)

Brian Cox dan Emile Hirsch menyayat, memotong dan membongkar tubuh manusia sebelum menemukan teror yang mengerikan. ‘The Post-mortem of Jane Doe’ seasyik kedengarannya kalimat tadi.

“There was once a time it was onerous to inform a comatose individual from a useless one, so coroners tied bells to everyone within the morgue. So in the event that they heard a ‘ting’, they knew any person down there wasn’t fairly able to go.”
— Tommy Tilden

Nah, ini dia movie horor yang benar-benar membuat saya bergidik. Telah menonton banyak movie horor, saya rasa tak ada lagi yang bisa membuat saya takut kala menonton (setelah menonton lain cerita), tapi The Post-mortem of Jane Doe berhasil melakukannya. Alasannya sedikit private; ceritanya melibatkan apa yang menjadi mimpi buruk saya semasa kecil, yaitu otopsi. Filmnya tak mengkhianati judul. Sebagian besar durasi menampilkan adegan menyayat, memotong, dan membongkar tubuh manusia. Aspek medis ini membuat ancaman mistisnya terasa begitu dekat dan oleh karenanya begitu mencekat, setidaknya hingga pengungkapan besar di tengah yang membuat saya meringis tak bergairah.

Movie dibuka dengan polisi yang tengah menyelidiki TKP dimana terjadi pembunuhan massal. Beberapa mayat ditemukan tewas mengenaskan, tapi yang lebih aneh, di basement ada sesosok mayat wanita telanjang yang setengah terkubur. Kematian wanita ini sepertinya tak berhubungan dengan para korban di atas rumah. Tak ada sedikitpun luka di tubuhnya, yang memancing pertanyaan: bagaimana ia meninggal?

Karena membutuhkan jawaban cepat demi bisa memberikan penjelasan pada wartawan keesokan paginya, di tengah malam itu seorang petugas mengirimkan mayat wanita tersebut ke sebuah rumah otopsi milik keluarga Tilden. Ada sang ayah, Tommy (Brian Cox) yang jelas tampak sudah mahir serta Austin (Emile Hirsch) yang masih ragu-ragu untuk mewarisi usaha turunan tersebut. Meski demikian, disinilah dia membantu sang ayah, bukannya pergi jalan dengan sang pacar.

Apa yang mereka temukan, jauh lebih aneh lagi. Tak ada luka luar sedikit pun di tubuh wanita yang mulus ini. Ia nyaris tak punya rigor mortis. Namun di dalam, tubuhnya rusak complete. Matanya abu-abu, lidahnya terpotong, darahnya mengalir dengan deras meski waktu kematian sudah lama, dan organ internalnya seperti terbakar dari dalam. Apakah ia disiksa sebelum meninggal? Siksaan macam apa yang bisa membuat internalnya separah ini sementara tubuh luarnya tetap mulus?

Paruh awal adalah suspens murni, semua mengenai antisipasi. Selagi dua tukang otopsi ini menjalankan prosedur forensik —yang membuat saya tak nyaman, clearly— sedikit demi sedikit detil tentang kematian diungkap. Bagian otopsinya sendiri juga menarik. Tommy memberikan penjelasan medis pada anaknya, mengamati detil-detil kecil lalu menyimpulkan layaknya seorang detektif memecahkan kasus. Mereka merangkai satu demi satu petunjuk yang makin lama makin bertambah aneh, sehingga menyimpulkan kematian kali ini tidaklah segampang biasanya. Kondisi mayat biasanya menceritakan sendiri cerita tentang kematian mereka, dan dua tukang otopsi kita (serta kita) akan dibuat penasaran setengah mati dengan cerita mayat wanita ini.

Semakin jauh mereka masuk, situasi di luar juga semakin parah. Ada badai yang akan datang, yang memastikan dua tokoh kita tak bisa kemana-mana saat klimaks menjelang. Lampu mulai berkedip-kedip mengerikan, radio mengeluarkan suara aneh. Dan ingat, ini adalah rumah otopsi, jadi tentu saja ada beberapa mayat yang disimpan disana. Triknya sudah biasa kita lihat, tapi penggarapannya terukur. Ini adalah movie berbahasa Inggris perdana dari Andre Ovredal, sutradara dari Troll Hunter, sebuah movie mockumentary Norwegia. Amunisinya ada banyak: kesunyian dan sisi gelap dari rumah otopsi, kengerian proses otopsi itu sendiri serta elemen supranatural yang meliputi sang mayat. Dan ia menggunakannya dengan bijak, dengan pacing yang mantap pula. Bahkan di saat lampu menyala pun, atmosfer horornya kuat.

Berdurasi tak sampai satu setengah jam, movie ini memaparkan karakterisasinya dengan minimalis. Tak ada subplot drama yang berlebihan, namun Cox dan Hirsch mampu meyakinkan kita tentang bagaimana dinamika hubungan mereka. Mereka juga terlihat meyakinkan saat harus tampil ketakutan bahkan saat pemantik horornya menurut saya tak begitu meyakinkan. Bicara soal meyakinkan, yang menjadi mayat adalah Olwen Kelly yang seorang aktor sungguhan, bukannya boneka properti. Menarik sekali saat akting terbaik dari movie ini berasal dari seorang aktor yang tugasnya hanya terbujur kaku seolah tak bernyawa hampir sepanjang durasi.

Saya takkan mengungkap paruh akhirnya. Namun saya akan bilang bahwa seperti halnya kebanyakan misteri, ia tak lagi mencekat saat kita sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. When The Post-mortem of Jane Doe reveals what’s underneath its pores and skin (ha!), issues get much less compelling. Paruh akhirnya adalah parade brutalitas. Ovredal pun tampaknya sadar bahwa penutupnya agak menggelikan, sehingga ia berusaha mengkompensasi dengan sekuens berdarah-darah. Ini terdengar kontraproduktif, tapi saya lebih suka ketika mereka memotong mayat, meski saya tak menikmatinya sama sekali. ■UP

Comply with Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di fb: fb.com/ulasanpilem


.containerdiv .cornerimage

‘The Post-mortem of Jane Doe’ |
TEGUH RASPATI | 16 Mei 2017

IMDb | Rottentomatoes
86 menit | Dewasa

Sutradara André Øvredal
Penulis Ian Goldberg, Richard Naing
Pemain Emile Hirsch, Brian Cox, Olwen Kelly

Leave a Reply